Categories
Main

Keberanian dan Kuasai Teknik Budidaya Resep Sukses Usaha

Berdasarkan pengalaman itu, ulasnya, jika dirancang secara benar sejak awal, penyakit bisa dikendalikan. Pria kelahiran 26 April 1965 ini pun merancang instalasi pengolahan limbah tambak untuk mencegah kehadiran penyakit. “Instalasi pengolahan limbah sangat penting karena belajar dari ke gagalan budidaya udang di pantai timur Lampung dan terus berkecamuknya penyakit di Teluk Lampung karena ketiadaan instalasi pengolahan limbah,” ia mengingatkan.

Karena itu, sesama petambak dalam satu kawasan ha rus memiliki komitmen untuk men jaga kualitas air laut dengan cara membangun instalasi pengolahan lim bah. Sehingga, air buangan tambak yang kembali masuk ke laut sudah benar-benar bebas dari zat-zat organik dan penyakit. Dengan kesadaran bersama akan pentingnya pengolahan lim bah, hingga kini belum ada penyakit udang yang mewabah di pesisir barat Lampung. “Karena itu saya yakin, sumber penyakit yang masih merebak di sejumlah sentra udang di Lampung bukan berasal dari benur, melainkan dari laut di lokasi tambak tersebut.

Sebab jika benur yang membawa penyakit seharusnya udang di Pesisir Barat juga terjangkit, buktinya ‘kan tidak,” jelasnya. Karena daya dukung lingkungan yang masih baik, padat tebar benur bisa didongkrak hingga 300-400 ekor/ m3 . Saat panen pada ukuran 40 ekor/ kg, tingkat kelangsungan hidup (survival rate, SR) sebesar 90% dan nilai konversi pakan (Feed Conversion Rate, FCR) 1,5.

Resep Usaha

Syafik mengaku, dulu berencana pen siun pada usia 55 tahun dan mempersiapkan usaha saat usia 50 tahun. Tapi kenyataan berkata lain. Ia harus angkat kaki dari perusahaan ketika usianya 46 tahun. Terakhir, ayah tiga anak ini menjadi penanggung jawab hatchery PT Central Pertiwi Bahari di Suak, Kab. Lampung Selatan. “Sebetulnya persiapan saya belum matang. Dengan keberanian kuat, sa ya mulai membuka usaha. Meski berpengalaman di hatchery tapi saya memilih budidaya udang dengan alasan di sektor ini tidak perlu marketing yang menjadi kelemahan saya,” ulasnya. Bagi karyawan atau pihak lain yang ingin terjun ke usaha tambak, Syafik memberi resep sukses berbisnis udang, yaitu keberanian untuk terjun dan menguasai teknis budidaya.

Ia menilai, bisnis udang salah satu bisnis yang tidak ada persaingan. “Coba membuka lain, kita harus menghitung secara matang kompetitor, peluang pasar, dan harga. Berbeda dengan usaha tambak. Makin banyak pengusaha membuka tambak dan produksi udang terus meningkat, udang tetap laku dan harganya cenderung naik. Apalagi sebagian besar pasar udang beku untuk ekspor sehingga peluang pasarnya tetap besar,” urainya. Selain lahan, imbuh suami Tia Agustina ini, modal terbesar budidaya udang adalah biaya pakan. Meski begitu, sistem pembayaran pakan hingga tempo dua bulan sangat membantu arus kas pembudidaya. Namun, ketersediaan energi listrik masih menjadi kendala budidaya udang di pantai barat Lampung.

Petambak terpaksa menggunakan genset sehingga biaya operasional lebih tinggi dibandingkan tambak di Teluk Lampung yang sudah mendapat listrik PLN. Tetapi, harga pakan dan benur masih sama meski jarak tempuh Bandarlampung ke pesisir barat lebih jauh, sekitar 250 km, daripada ke Teluk Lampung. Sebab, kondisi jalan di Teluk Lampung sebagian besar dalam kondisi rusak parah sehingga lama waktu perjalanan dari Bandarlampung ke Teluk Lampung atau ke pantai barat relatif sama, berkisar 5-6 jam.
Setelah benur kenyang dan beradaptasi dengan suhu air kolam, baru ditebar ke tambak.